DUA PULUH SATU
Image source : google
Hai.. aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku di hari yang spesial ini. Ini adalah tulisan yang ku buat untukku dan juga untukmu yang sudah atau akan berusia 21 tahun. Tulisan ini aku buat untuk menyemangati diriku dan tentu saja kamu yang membaca ini yang sedang...hmm.. yaaa cemas atau bimbang, mungkin, yang juga merasakan apa yang aku rasa :)
Hai.. aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku di hari yang spesial ini. Ini adalah tulisan yang ku buat untukku dan juga untukmu yang sudah atau akan berusia 21 tahun. Tulisan ini aku buat untuk menyemangati diriku dan tentu saja kamu yang membaca ini yang sedang...hmm.. yaaa cemas atau bimbang, mungkin, yang juga merasakan apa yang aku rasa :)
Hai, diriku. Tidak terasa waktu bergerak begitu cepat ya. Lebih cepat dari hari di kalender. Sekarang umur ku sudah 21 tahun. "Dua puluh satu tahun", itu artinya aku sudah melewati umur 17, 18, 19, dan 20 tahun. Padahal kemarin seperti baru saja aku merasakan umur 17 tahun #eaaaa hahaha.
Banyak orang berkata di usia 20 tahun, akan ada beberapa hal yang berubah, seperti teman yang dulunya banyak, sekarang entah tak tahu kemana. Perlahan hilang satu per satu, sibuk dengan urusan masing-masing. Hal yang awalnya menarik, sekarang sudah tak berarti lagi. Bergelut dengan rasa sepi dan takut. Takut bagaimana menyelesaikan masalah yang pastinya jauh lebih berat dan rumit dibanding sebelumnya. Takut bagaimana keluar dari uni life. Apakah bisa cepat sesuai target atau tidak? Pernah suatu ketika, ada teman yang upload di instagram storiesnya, dia sudah melewati masa sidang. Bahkan ucapan dari teman-temannya pun dicapture kemudian dibuat instastory. Ya... wajar memang. Meluapkan dan berbagi rasa kebahagiaan memang suatu hal yang wajar. Tentu aku juga bahagia melihat temanku mulai melewati masa kritisnya. Namun, sudut bibir ku yang awalnya ke atas, perlahan turun. Rasa bingung, gundah, cemas, dan kawan-kawannya tiba-tiba muncul begitu saja bagai mantan. Aku bertanya pada diriku sendiri, "Hai diriku! kapan kamu akan menyusul?" Munafik jika aku tidak merasa "ingin" seperti mereka. Munafik jika aku tidak iri pada mereka. Tentu saja ingin, tentu saja iri.
Aku merasa bahwa sepertinya aku belum siap untuk menjalani usia 21 tahun ini. Rasanya ingin kembali menjadi anak kecil yang polos, yang tak tahu apa-apa, yang hanya tahu dengan permainan.
Lagi-lagi aku bertanya pada diriku "Hai diriku, apakah aku bisa? Sudahkah aku siap?"
Lalu diriku yang lain menyahut, "Namun, waktu terus bergerak, Tik. Siap tidak siap, kamu harus siap. Apa kamu mau mengecewakan mereka yang sudah bekerja keras, mengeluarkan keringat hanya agar membuat mu lebih baik dari mereka? Apa kamu mau mengecewakan orang-orang yang sangat sayang padamu? Tidak kan? Kalau begitu, ayo bangkit. Teman mu bisa, kau pasti juga bisa. Kalau kau lelah, istirahat lah sejenak. Namun, jangan lupa bangkit kembali, ya! Ayo semangat."
Ya... aku harus bangkit. Aku bisa. Bisa melewati ini semua. Tidak... kali ini aku harus berani. Aku akan melawan rasa takutku, rasa cemasku, dan rasa gundahku yang sudah lama berada di pikiranku. Jangan biarkan rasa-rasa itu muncul kembali. Aku harus bangun tembok yang kuat agar rasa-rasa itu tak bisa masuk lagi untuk mengeluarkan rasa keyakinan ku.
BISA! AKU BISA! AKU BISAAAAA!!!
Ya... aku harap tulisan ini dapat menyemangati mu yang sedang cemas, atau gelisah. Ya dan begitu pun denganku.
Dan untuk mu yang sedang berulang tahun hari ini, aku ingin mengucapkan Happy Bornday for you. Hope your wishes come true :)
Ya... aku harap tulisan ini dapat menyemangati mu yang sedang cemas, atau gelisah. Ya dan begitu pun denganku.
Dan untuk mu yang sedang berulang tahun hari ini, aku ingin mengucapkan Happy Bornday for you. Hope your wishes come true :)


Komentar
Posting Komentar